Hari
ini, jika kita membicarakan tentang persepakbolaan nasional pasti akan merasa
miris dengan kondisi Timnas yang sangat miskin prestasi. Ya, sepak bola yang
notabene olahraga terfavorit di dunia, berkembang
sangat lamban di negara yang memiliki SDM lebih dari 200 juta jiwa ini. Lalu
sektor manakah yang perlu mendapat koreksi demi kemajuan persepakbolaan
nasional? Apakah kualitas pemain kita memang rendah? Ataukah hancurnya
manajemen di tubuh PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia)?
Jika kita menunjuk SDM sebagai sumber masalah, tidak ada alasan yang kuat untuk menjustifikasinya karena saat ini Indonesia masih bercokol di peringkat 4 sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia (wikipedia, 2012). Lihatlah Italia, Spanyol, Argentina dan Uruguay yang memiliki jumlah penduduk jauh di bawah Indonesia. Bahkan, dengan ‘hanya’ 3 juta jiwa Uruguay mampu meraih trofi Copa America, melaju hingga semi final di ajang Piala Dunia 2010, dan tentunya membantai Timnas Indonesia 7-1 dua tahun lalu. Sungguh ironis. Sehingga bukan SDM yang menjadi permasalahan, namun bagaimana proses pembinaan pemain untuk meningkatkan kualitas pemain Timnas.
Berbicara
mengenai pembinaan pemain, hal ini erat kaitannya dengan konflik internal yang
saat ini melanda PSSI. Mulai dari sosok kontroversi Nurdin Halid, hingga konflik
dualisme kompetisi antara Indonesia Super League (ISL) dan Indonesian Premier
League (IPL). Kisruh di tubuh PSSI semakin rumit ketika Nurdin Halid kembali terpilih
sebagai ketua umum PSSI pada tahun 2004. Pada tahun 2007, ia divonis dua tahun
penjara akibat tindak pidana korupsi dalam pengadaan minyak goreng. Hal ini
menjadikan Nurdin sebagai satu-satunya Ketua Umum PSSI dalam sejarah yang
memimpin organisasi olahraga dari balik jeruji besi.
Yang
lebih mencengangkan, Nurdin kembali mencalonkan diri sebagai ketua umum PSSI
setelah masa jabatannya berakhir pada tahun 2009 lalu. Padahal, dalam standar
statuta FIFA Pasal 35 butir 4 telah dijelaskan bahwa siapa pun yang pernah
terlibat tindak pidana kriminal tidak diperbolehkan untuk memimpin induk
organisasi olahraga. Hujatan dari kalangan suporter pun muncul di berbagai
penjuru negeri, mereka melakukan aksi demonstrasi, hingga mengepung Stadion
Gelora Bung Karno untuk beberapa pekan, mereka pun rela tinggal di emperan stadion demi runtuhnya rezim
Nurdin Halid. Setelah melalui Kongres Luar Biasa, akhirnya Johar Arifin
terpilih menjadi Ketua Umum PSSI periode 2011-2015.
Apakah
PSSI akan berubah di tangan Johar Arifin? Rasanya hal ini masih perlu pengkajian
ulang. Bagaimana tidak, satu bulan setelah dilantik menjadi ketua umum yang
baru, Johar Arifin membuat keputusan yang mengejutkan banyak pihak dengan
memecat Alfred Riedl, pelatih yang membawa Timnas Indonesia melaju hingga final
Piala AFF. Tidak sampai disitu, tiga bulan berselang Johar Arifin kembali
membuat keputusan kontroversial dengan menyatakan bahwa Indonesian Premier
League (IPL) adalah liga nomor satu di Indonesia. Sementara Indonesia Super
League (ISL) dianggap sebagai liga ilegal karena tidak berada di bawah naungan
PSSI. Keputusan ini tentu merupakan sebuah pukulan yang cukup telak, karena saat
pemilihan ketua umum PSSI para kontestan dari ISL juga memiliki hak suara dan turut ‘berandil’
dalam terpilihnya Johar Arifin.
Nampaknya,
PSSI merupakan ranah baru bagi para politisi busuk yang hanya ingin
mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya saja. Seperti yang dilansir
Metro TV News, saat Nurdin masih menjabat sebagai ketua umum dia menyatakan
bahwa sukses
tim nasional Indonesia pada Piala Suzuki AFF 2010 adalah karya salah satu Partai
Politik yang ada di Indonesia. Perlu diketahui, 14 kontestan yang berlaga di
ISL memiliki kader yang berasal dari Partai Politik. Belum lagi ‘warisan’
hutang dari Nurdin Halid untuk Johar Arifin yang mencapai angka 6 milliar! Yang
teranyar, Timnas hasil ‘karya’ dari LPI harus menelan pil pahit setelah dibantai
Bahrain 10-0 tanpa balas.
Persepakbolaan
tidak akan pernah maju, jika orang – orang yang akan menjadi pengurus PSSI
tidak berangkat dari ketulusan hati. Pun dengan prestasi Timnas, hanya akan
jalan di tempat apabila Indonesia masih memiliki dualisme kompetisi. Alangkah
baiknya jika Indonesia Super League dan Indonesian Premier League melebur
menjadi satu. Toh, mereka bisa membuktikan satu sama lain bahwa tim terbaiklah
yang akan bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Bagaimanapun juga,
90% komposisi pemain Timnas berasal dari Indonesia Super League. Sementara
pemain yang bermain di kompetisi ilegal tidak diperkenankan untuk membela Panji
Merah Putih.
No comments:
Post a Comment