Monday, March 19, 2012

Kapan ya terakhir Upacara Bendera?


            Apabila ada yang bertanya kepada Anda seperti judul saya di atas, bagaimana Anda akan menjawabnya? Bagi yang masih duduk di SD, SMP dan SMA pasti akan menjawab hari senin kemarin. Namun bagaimana jika pertanyaan itu ditujukan kepada mereka yang saat ini sudah berstatus sebagai mahasiswa? Akan ada opsi jawaban yang berbeda – beda, ada yang yang terakhir melaksanakan hari senin kemarin (selain menjadi mahasiswa, juga berstatus sebagai guru bantu di sekolah). Ada pula yang akan menjawab, kemarin saat upacara peringatan hari kemerdekaan RI, itupun karena ada permohonan delegasi dari organisasi yang diikutinya. Bahkan, ada di antara mereka yang bertahun – tahun tidak pernah melakukan upacara bendera.
            Tidak ada yang salah dari jawaban tersebut, karena pada dasarnya memang tidak ada ‘budaya’ upacara bendera untuk perguruan tinggi. Sebetulnya apa sih manfaat upacara bendera? Meningkatkan rasa nasionalisme? Mengingat sekaligus menghargai jasa – jasa pahlawan? Kebanyakan orang berfikir bahwa masih ada banyak cara lain untuk meningkatkan rasa nasionalisme tanpa harus melaksanakan upacara bendera. Pertanyaannya, adakah waktu untuk melakukan hal – hal tersebut? Apalagi tidak ada ikatan dan juga paksaan untuk melaksanakan hal tersebut, hanya sebatas kesadaran seseorang.
            Faktanya, banyak dari kalangan  mahasiswa yang tidak bisa menjawab apabila ditanya mengenai UUD 1945, isi Pancasila, bahkan lagu – lagu nasional termasuk Indonesia Raya pun mereka tidak hafal. Akibatnya, rasa nasionalisme seolah luntur, karena kurangnya media untuk meningkatkan rasa nasionalisme. Saya memang bukan mahasiswa jurusan PPKn ataupun sejenisnya, tetapi setidaknya saya paham betapa pentingnya arti sebuah nasionalisme untuk kemajuan negeri ini. Efek dari degradasi nasionalisme ini pun memiliki dampak negatif yang akan merugikan bangsa ini. Yang pertama adalah gempuran globalisasi yang membuat masyarakat berfikir liberalis, mereka percaya hal tersebut dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa Indonesia akan berubah arah dari Ideologi Pancasila menjadi Ideologi Liberalisme. Memilukan. Bagaimanapun juga, liberalisme bisa membawa perilaku individualisme yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan sekitar dan sikap acuh tak acuh pada pemerintahan.

Kedua, dari aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri. Saat ini, betapa banyak produk luar negeri yang beredar di Indonesia? Mulai dari media komunikasi, transportasi, hingga produk makanan. Bahkan, Ponorogo telah dibanjiri oleh minimarket yang notabene pemiliknya adalah orang asing. Pemerintah pusat yang seharusnya menjadi tolak ukur, seolah – olah  ‘mendukung’ krisis nasionalisme dengan berbagai kebijakannya. Seperti pemberlakuan pasar bebas dan melakukan berbagai impor yang justru merugikan penduduk Indonesia. Mulai dari daging sapi, gula, kentang, hingga garam! Bagaimana mungkin Indonesia yang 70% wilayahnya berupa perairan tidak mampu memproduksi garam yang berkualitas? Ataukah hal tersebut hanya sebuah keputusan yang bertujuan untuk menguntungkan  beberapa kelompok? Atau memang kata nasionalisme telah terhapus dari hati nurani mereka.
            Yang ketiga, masyarakat khususnya para kawula muda lupa akan identitasnya sebagai bangsa Indonesia. Bukan hal baru lagi jika budaya barat telah menjadi lifestyle masyarakat Indonesia. Bahkan, bangsa lain pun mengakui bahwa Indonesia adalah negara yang kaya budaya dan memiliki Sumber Daya Alam melimpah. Sayangnya, hal tersebut dikalahkan dengan budaya asing yang lebih keren, update,dan konsumtif sehingga keunggulan Indonesia justru dianggap warisan budaya yang kuno, konservatif dan katanya primitif.
            Banyak tantangan yang harus dihadapi para pemuda, baik di tingkat lokal seperti korupsi, kemiskinan, pengangguran, dan kemandirian. Maupun di tingkat global seperti isu-isu lingkungan hidup, pemanasan global, terorisme, dan sebagainya. Merosotnya Nasionalisme adalah masalah kita bersama. Bagaimana negara ini bisa maju, kalau rakyatnya tidak bangga dengan Indonesia? Jika sudah begini, tidak ada hal yang bisa dilakukan kecuali dengan memulai dari hal yang kecil.
            Kembali ke perbincangan awal, upacara bendera untuk perguruan tinggi memang bukanlah satu – satunya solusi untuk mengatasi degradasi nasionalisme tersebut. Apalagi saat ini banyak yang beranggapan bahwa upacara bendera untuk perguruan tinggi sudah tidak penting, sehingga tidak perlu untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Mereka berdalih bahwa upacara bendera sudah tidak relevan dengan mahasiswa, ada juga yang menyatakan bahwa hal tersebut sudah tidak jamannya lagi jika harus diaplikasikan di perguruan tinggi. Bahkan, akan ada pihak yang berpendapat bahwa opini tersebut sudah tidak populer dan mungkin tidak masuk akal. Akan tetapi, tidak ada salahnya ‘memperbaiki’ semangat nasionalisme pemuda dengan cara tersebut. Paling tidak mereka akan bisa menjawab apa isi pancasila dan dapat menyanyikan lagu nasional. Semoga.
Roni Wanfuadi
Mahasiswa UNMUH PO
Jurusan Bahasa Inggris
Santri Pondok Al-Amin Ronowijayan

No comments:

Post a Comment